Berawal dari padi hingga sebutir nasi


Nasi, sesuatu yang tidak asing lagi di telinga kita. Bentuknya putih, lonjong dan juga merupakan makanan pokok di Asia, termasuk Indonesia. Santapan yang dapat dinikmati oleh semua golongan, dari masyarakat hingga para pejabat, dari tukang duren hingga bapak Presiden. Nasi putih, dikonsumsi oleh lebih dari 500 juta jiwa di Asia Tenggara sendiri. Mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan seterusnya.

Sejarah sebutir padi. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.

Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.

Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.

Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.

Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-“bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8′, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen’ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim. Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.

Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi. (id.wikipedia.org)

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea‘ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma‘ (bagian yang menutupi).

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.

Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

  • amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
  • amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket

Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.

Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras.

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).

Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain. (id.wikipedia.org)

Nasi adalah beras (atau kadang-kadang serealia lain) yang telah direbus (dan ditanak). Proses perebusan beras dikenal juga sebagai ‘tim’. Penanakan diperlukan untuk membangkitkan aroma nasi dan membuatnya lebih lunak tetapi tetap terjaga konsistensinya. Pembuatan nasi dengan air berlebih dalam proses perebusannya akan menghasilkan bubur.

Warna nasi yang telah masak (tanak) berbeda-beda tergantung dari jenis beras yang digunakan. Pada umumnya, warna nasi adalah putih bila beras yang digunakan berwarna putih. Beras merah atau beras hitam akan menghasilkan warna nasi yang serupa dengan warna berasnya. Kandungan amilosa yang rendah pada pati beras akan menghasilkan nasi yang cenderung lebih transparan dan lengket. Ketan, yang patinya hanya mengandung sedikit amilosa dan hampir semuanya berupa amilopektin, memiliki sifat semacam itu. Beras Jepang (japonica) untuk sushi mengandung kadar amilosa sekitar 12-15% sehingga nasinya lebih lengket daripada nasi yang dikonsumsi di Asia Tropika, yang kadar amilosanya sekitar 20%. Pada umumnya, beras dengan kadar amilosa lebih dari 24% akan menghasilkan nasi yang ‘pera’ (tidak lekat, keras, dan mudah terpisah-pisah).

Nasi dimakan oleh sebagian besar penduduk Asia sebagai sumber karbohidrat utama dalam menu sehari-hari. Nasi sebagai makanan pokok biasanya dihidangkan bersama lauk sebagai pelengkap rasa dan juga melengkapi kebutuhan gizi seseorang. Nasi dapat diolah lagi bersama bahan makanan lain menjadi masakan baru, seperti pada nasi goreng, nasi kuning atau nasi kebuli. Nasi bisa dikatakan makanan pokok bagi masyarakat di Asia, khususnya Asia Tenggara.

Nasi merupakan  makanan pokok yang mengandung gizi. Sebab didalamnya terdapat unsur-unsur yang dapat diubah menjadi energi. Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 kalori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

Tapi ingat, sebutir nasi tidak serta merta langsung menjadi sebutir nasi yang dapat disantap seperti saat ini. Membutuhkan proses yang panjang, dimulai dari pengolahan tanah, persemaian , penanaman bibit, barulah setelah waktu yang ditentukan padi bisa dipanen, belum selesai sampai disana, padi harus digiling sehingga kulit-kulitnya mengelupas, sehingga mendapatkan butir beras yang siap dimasak menjadi sebuah nasi yang dapat dihidangkan. Berikut ini ada beberapa filosofi beberapa orang tentang nasi

KabarIndonesiaSepiring nasi. Tidak banyak. Tapi, di sana ada pelajaran hidup. Sepiring nasi mengajarkan tentang proses yang mesti di jalani dalam hidup dan kehidupan. Tidak ada yang langsung jadi seperti yang di kisahkan dalam cerita Seribu Satu Malam dengan lampu Aladinnya. Tidak ada Sim Salabim, tidak ada Abrakadabra. Kita tidak sedang hidup dalam dunia mimpi.

Untuk bisa menjadi sepiring nasi yang menemanimu saat pagi, siang dan bahkan malam. Nasi-nasi itu sebelumnya hanyalah bulir-bulir padi. Untuk menjadi bulir-bulir padipun, ia harus menerima serangkaian proses.

Petani menjadi pahlawan untuk setiap bulir padi itu. Dari ketika matahari mulai merangkak di langit timur, petani harus bangun. Sering hanya dengan sarapan segelas kopi. Petani menyandang pacul, turun ke sawah. Bermain dengan lumpur, lintah-lintahpun seperti gandrung mengganggunya, menghisap darah petani. Tanah-tanah persawahan di cangkul oleh sang pahlawan itu. Setelah menunggu sampai beberapa lama hingga bisa di tanami. Kembali, terjun ke sawah untuk menanaminya. Menjaga hingga beberapa bulan yang melelahkan. Tidak mengacuhkan matahari yang membakar, keringat yang mengucur deras. Hingga, kilau memancar dari setiap bulir padi di tengah persawahan. Sejuk dan sangat indah.

Burung-burung pipitpun terlihat begitu kegirangan, tak bisa menahan hasratnya untuk sekedar mencicipi beberapa biji padi. Sampai kemudian, tiba saatnya padi itu harus di pisahkan dari batangnya, di potong oleh petani dengan senyum sumringah oleh panen yang bakal ia tuai.

Untuk memotong juga tidak cukup dengan waktu yang sebentar saja, tapi sampai berhari-hari. Petani tidak menghitung, berapa ribu liter sudah  peluh mengucur dari tubuhnya. Setelah selesai padi harus di bawa ke penggilingan. Padi itu di rontokkan kulit-kulitnya hingga berubah warna dari kekuningan menjadi putih. Namanya berubah menjadi beras, menggoda perut-perut yang lapar. Tapi,  tentu saja, beras ittu tidak bisa langsung ditelan. Beras itu harus di cuci dan di panaskan di atas api.
Beberapa bulan yang lalu beras itu harus di panggang di bawah matahari. Setelah di panen, menjelang di giling juga harus di jemur di bawah matahari. Panas, dan untuk menjadi nasi juga harus menerima panas lagi dari api di tungku. Bulir-bulir beras itu musti rela kembali di bakar dengan api sampai menjadi nasi. Sebuah proses yang lumayan panjang.

Persis sama juga dengan ulat-ulat di dedaunan yang harus menjalani waktu yang tidak singkat untuk bisa menjadi seekor kupu-kupu yang meneduhkan pandangan.

Alam memberi pelajaran pada proses yang harus di jalani dalam hidup. Untuk bisa menerima sesuatu yang berharga, serangkaian kepahitan menjadi satu syarat. Keberhagaan hidup bukan hadiah tak berimbalan. Ia adalah buah dari setiap yang kita tabur. Satu piring nasi tidak bisa mengeyangkan ketika tangan masih enggan untuk terayun menyuapkan nasi itu ke rongga mulut.
Tak pelak, kesediaan menerima semua proses itu berjalan menjadi satu hal yang mutlak harus. Kita sendiri dulu hanyalah seorang bayi yang tidak berdaya, tidak memahami kenapa harus terlahir. Lahir tanpa membawa apa-apa. Telanjang saja berbaju lendir dan darah dari rahim ibu. Serangkaian proses telah menjadikan kita sebagai remaja dan kemudian dewasa. Kelak kita juga menjadi tua.

Namun, akankah kita membiarkan hidup berjalan begitu saja tanpa ada upaya untuk bisa membuat dan melakukan sesuatu yang berharga? Tentu, kita takkan menginginkan diri kita ini hanya lahir, hidup dan lantas mati. Karena pikiran dan segenap anggota tubuh yang telah di anugerahkan Tuhan sangatlah berharga. Kitapun yakin Ia ciptakan semua ini tidaklah asal jadi. Ia tahu yang kita butuhkan.
Kasihan sekali jika kita sampai hari ini masih belum tahu fungsi dari setiap inci anggota tubuh yang di beri-Nya. Taburlah harapan kebaikan. Pergunakan semua yang di berikan Tuhan dengan optimal, hingga kita bisa menghadirkn sesuatu yang BESAR untuk wajah bumi ini. Bisa di lihat oleh keturunan yang hidup di kemudiannya. Walau niat kita tidak sesederhana sekedar untuk mengundang decak kagum mereka. Melainkan kontribusi tulus yang di dedikasikan untuk perkembangan manusia masa depan secara keseluruhan.

(shout.indonesianyouthconference.org/article/rakapradsmadji/1179-filosofi-nasi) – Beras itu pun siap masak dan siap untuk disantap. Coba pikirkan bahwa semua ujian dan semua cobaan itu akan berhasil pada akhirnya akan menjadi sebuah pencapaian yang berarti bagi kita. Sebuah hasil akhir yang sangat memuaskan, yang sangat nikmat yang adalah diri kita sendiri.

Nasi juga merupakan hidangan tradisional, contohnya nasi tumpeng. Nasi tumpeng tidak begitu saja dibuat melainkan ada maksud tesendiri. Tumpeng adalah sesajian khas masyarakat Jawa yang senantiasa kita jumpai dalam berbagai upacara, seperti slametan, kenduri, bersih desa, maupun syukuran. Bahkan dewasa ini nasi tumpeng tidak hanya digunakan untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga untuk perayaan-perayaan yang bersifat profan, seperti han ulang tahun, syukuran awal pembukaan film, syukuran pembukaan tempat usaha, dan lain-lain. Nasi yang dibentuk kerucut ini biasa diletakkan di atas tampah (nampan dan anyaman bambu berbentuk bulat) dengan dikelilingi lauk-pauk dan sayuran di sekelilingnya. Barangkali semua orang bisa mengatakan bahwa nasi tumpeng adalah simbol dari sebuah gunung, namun mungkin hanya sedikit orang yang bisa memahami mengapasimbol gunung menjadi begitu dominan di dalam tradisi sesaji Jawa.

Kedekatan antara masyarakat Jawa dengan gunung, yang sudah tertanam sejak mereka masih anak-anak, menyebabkan mereka membuat miniatur gunung ke dalam bentuk sesaji ketika sedang melakukan suatu tindakkan keagamaan (baik yang dilakukan oleh umat Islam, Kristen, maupun Hindu, karena orang Jawa pada umumnya tidak memperdulikan apapun latar belakang agama mereka, yang penting mereka mewujudkan rasa bakti mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan persembahan berbentuk “miniatur gunung” tersebut). Fenomena gunung yang dikelilingi oleh berbagai kehidupan tumbuhan dan binatang di lereng-lerengnya direpresentasikan dalam bentuk nasi yang dicetak berbentuk kerucut dan dihiasi dengan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling kakinya. Mengapa nasi menjadi bahan utama untuk membuat tumpeng. Tidak lain dikarenakan nasi adalah makanan pokok bagi masyarakat Jawa, sehingga nasi pulalah yang dijadikan sebagai bahan utama membuat tumpeng.Sedangkan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling tumpeng melambangkan tumbuh-tumbuhan (khususnya tanaman hasil bumi) dan binatang (khususnya ternak) yang dihidupi oleh gunung tersebut.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang berada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya. fahmee76.wordpress.com/2010/07/05/filosofi-nasi-tumpeng/

Jadi kesimpulannya, dari sebutir nasi  ini, kita dapat mengambil pelajaran. Cobalah kita bayangkan jika beras itu jati diri kita. Dimulai dari awal pertumbuhan. Pengolahan tanah itu seperti lingkungan sekitar kita. Persemaian itu kita ibaratkan sewaktu kita masih di dalam kandungan ibu. Penanaman bibit seperti masa kanak-kanak kita yang diberikan pendidikan yang baik dan benar, sehingga dewasa menjadikan kita manusia yang berakhlak dan mempunyai pendidikan yang baik. Barulah setelah waktu yang ditentukan padi siap dipanen, ini berarti kita sudah menjadi manusia yang dewasa. Padi yang telah dipanen harus digiling untuk menghasilkan beras yang bersih. Ini berarti setelah kita dewasa, kita harus menghadapi beberapa cobaan, sehingga kita dapat hidup dan diterima oleh masyarakat luas

Satu hal lagi yang kita semua bisa petik dari nasi adalah, nasi adalah nasi. Dari mana pun, nasi Jepang, Nasi Indonesia, Setra Ramos, Rojolele, Pandan Wangi, apapun, jika dimasak akan menjadi nasi. Nasi goreng, nasi kuning, nasi kucing, apapun bumbunya, apapun warnanya, apapun rasanya bahan dasarnya adalah nasi. Begitu pula kita manusia. Bagaimanapun kita menghias diri, menutup diri, menolak diri, membuat diri kita pedas, asin, asem, manis, kuning, putih, coklat, merah kita adalah diri kita sendiri. Kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa kita diciptakan sebagai kita sendiri.

Janganlah membuang waktu dengan mencoba menjadi makanan lain jika kamu memang diciptakan sebagai beras. Jadi intinya, kita adalah diri kita sendiri. Di manapun kita berada, siapapun kita ini, peganglah teguh jati diri kita karena itu adalah kekuatan kita. Jadilah sebuah bibit unggul, yang akan membuat sepiring nasi yang nikmat disantap.

Satu kehebatan nasi, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, cuaca panas maupun dingin. Ketika nasi sudah dihidangkan, dapat mengumpulkan manusia dari manapun tanpa melihat perbedaan. Nasi itu hebat ya? Namun jika kita lihat sekarang, banyak manusia yang tidak tahu arti dari sebutir nasi. Contohnya, banyak orang yang makan nasi berlebihan, sehingga nasi yang berlebihan itu dibuang begitu saja, tanpa memikirkan rakyat jelata yang kelaparan yang rela berpanas-panasan di jalanan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.  Adakah rasa untuk saling berbagi? Jawabannya ada pada diri anda.

 

 

 

 

 

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 909 other followers

%d bloggers like this: