WE KNOW NOTHING OR WE KNOW ALL THINGS


We know nothing or we know all thing, jika dilihat sekilas pernyataan tersebut agak aneh, namun setelah melalui proses pemikiran yang panjang, pernyataan tersebut merupakan kondisi yang tanpa disadari kita alami. Sebagaimana kita berada di bumi ini dalam keadaan we know nothing atau belum tahu apa-apa. Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kepada kita sesuatu yang sangat berharga, dan pemberian itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya yang diciptakan Allah SWT, yakni apa yang disebut dengan “akal”, dengan akal tersebut kita di suruh untuk berpikir. Mencari tahu apa-apa yang ada di atas permukaan bumi ini, menganalisis sesuatu, serta menemukan akar permasalahannya, selanjutnya ditemukan solusi dan alternatif pemecahannya, kemudian diberikan kesimpulan dan beberapa rekomendasi sebagai suatu proses dari rasa keinginan tahuan terhadap suatu persoalan. Koentjaraningrat seorang Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu lagi. Begitulah seterusnya, hingga tidak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Sifat keingintahuan tersebut kalau direnung-renung dengan akal sehat, merupakan kodrati manusia, keingintahuan” terhadap sesuatu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukannya. Di dalam kehidupan sehari-hari manusia secara langsung sifat tersebut teraplikasi di dalam dirinya. Alam yang terben-tang luas ini merupakan “rahasia” yang perlu dipikirkan dan dikaji oleh kita dan banyak masalah-masalah yang perlu dikaji, baik masalah pendidikan, sosial budaya, sosial ekonomi, dekadensi moral, dan sebagainya. Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, apalagi seorang pendidik, dalam hal ini guru. Guru yang baik adalah guru yang mau belajar, mau membaca dan mau mendengar sehingga memiliki kemampuan dan wawasan berpikir ilmiah. Ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan hitungan detik dan menit senantiasa berubah, guru harus mampu mengakselerasikan perubahan tersebut, kalau tidak maka akan terasa kerdilnya kita. Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan diaplikasikan, dengan budaya tersebut, maka kita tahu dan paham dengan berbagai persoalan dan menemukan solusinya, demikian pula akan mampu memberikan suatu kesimpulan dari suatu permasalahan. Mana kita tahu, mengapa nilai belajar anak didik kita merosot, selama ini kita hanya menyalahkan anak didik kita yang malas belajar, kurikulum yang terlalu padat, atau alat evaluasilah yang kurang shahih, atau gurulah yang tidak mampu mengajar, hal-hal tersebut bisa saja dijadikan indikator. Akan tetapi ada hal-hal mustahak yang tidak kita ketahui, bagaimana untuk mengetahui persoalan yang mustahak itu, harus melalui suatu penelitian. Dengan penelitian itulah kita mengetahui dan memahami akar permasalahan (grassroot), dan dengan demikian akan menjadi suatu rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan. Selanjutnya bagi pelaksana pendidikan maupun para pengambil keputusan kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus memacu dan meningkatkan kinerjanya ke depan. Karena pada kesempatan ini guru berkecimpung dalam dunia pendidikan, maka masalah yang perlu kita teliti tentu menyangkut masalah pendidikan. Selain dari pada itu yang perlu diketahui oleh guru bahwa budaya meneliti itu berguna bagi guru ? Budaya meneliti bagi guru dimulai dari suatu masalah, ketidak sesuaian antara desain dan desollen, antara apa yang ada dengan apa yang akan diharapkan. Akibat ketidaksesuaian tersebutlah menimbulkan permasalahan, dan dari permasalahan tersebut dilakukan kajian, dan dari kajian itu kita menemukan jalan keluarnya. Sebenarnya banyak hal yang dapat menjadi bahan kajian dari guru, jika guru ingin mengembangkan budaya meneliti. Karena guru secara langsung terlibat di dalam proses belajar mengajar, setiap saat guru bertungkuslumus dengan berbagai permasalahan, apakah menyangkut dengan hasil belajar anak, disiplin belajar anak, proses pembelajaran guru, hubungan guru dengan siswa, unjuk rasa para siswa, tata tertib sekolah, tata krama siswa, keterampilan mengajar guru, organisasi siswa, peran orang tua terhadap anak, dan masih banyak persoalan yang dapat dikembang dalam suatu penelitian. Demikian pula persoalan yang ditemukan di luar lingkungan sekolah, seperti kenakalan remaja, tertib berlalu lintas, maraknya narkoba, kebut-kebutan dijalan, prostitusi, judi dan minuman keras, Wanita Tuna Susila, siskamling, tawuran antara pelajaran, dan masih banyak persoalan yang dapat diangkut oleh guru, kalau benar-benar ingin mengembangkan budaya meneliti. Terasa dan sangat dirasakan sekali, sebenarnya budaya meneliti tidak terlepas dari kebiasaan seseorang dalam tulis menulis ilmiah. Guru yang selalu melakukan kegiatan membuat karya ilmiah, maka ini merupakan salah satu pengembangan budaya meneliti. Namun, budaya ini memang kurang diminati para guru, dan guru kurang terbiasa melakukan hal ini, karena mungkin kesibukan mengajar sehingga waktu untuk digunakan menulis dan meneliti kurang tersedia, atau bisa saja ketidaktahuannya bagaimana menulis suatu karya ilmiah, dan mungkin saja menulis karya ilmiah hanya tugas para dosen di perguruan tinggi saja, dan banyak faktor lainnya yang menyebabkan keengganan guru dalam mengembangan budaya menulis atau meneliti. Kalau benar-benar direnungkan, tidak ada kata “tidak bisa” di atas dunia ini, tidak ada kata sukar jika dicoba. Belum dicoba sudah mengatakan tidak bisa dan sukar dilakukan, mana mungkin suatu keinginan akan tercapai. Oleh sebab itu,memang diperlukan motivasi dan proaktif seseorang untuk dapat mengembangkan budaya meneliti. Perlu diketahui kiat-kiat suatu penelitian, perlu banyak membaca, mengamati, dan mengevaluasi, nah inilah yang menjadi modal bagi guru jika ingin mengembangkan budaya meneliti. Bagaimana kita mau perang, jika strategi perang dan senjata yang akan digunakan tidak kita ketahui, demikian pula untuk mengembangkan budaya ini, kita harus memiliki seperti apa yang disebutkan di atas. Ke depan, budaya meneliti akan menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru, apalagi berkaitan dengan kenaikan pangkat. Naif rasanya apabila anak didik kita rangsang untuk meneliti karya ilmiah dalam rangka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), guru pembimbing sendiri tidak pernah melakukan suatu penulisan atau penelitian. Bagaimana kita bisa memberikan nilai suatu karya ilmiah, kita sendiri belum pernah mencobanya, oleh sebab itu layak kiranya kita para guru sedini mungkin mencoba untuk meluangkan waktu untuk mengembangkan budaya menulis dan meneliti ini, cobalah dengan metode “trial and eror”, biarlah pada awalnya penilaian orang belum baik, karena kita selalu bertanya dan belajar terus, Pengalaman menunjukan, bahwa pada tahap awal, apapun yang kita lakukan dan sangat-sangat dirasakan pasti banyak kelemahan dan kekurangan. Kekurangan itu sangat dimaklumi, namanya orang baru belajar, masih untung mau melakukan dari pada tidak sama sekali. Akan tetapi kita berharap jangan sampai patah arang, hilang motivasi, dan jangan malu bertanya. maka tidak mustahil suatu waktu karya kita akan bermutu, dan akan tetap mengembangkan budaya meneliti ini sampai kapan pun. Mencari Tahu Mengapa Kita Ada! Hasil terbaru dari ekperimen akselerator partikel mengaju bahwa materi agaknya akan unggul pada akhirnya. Penelitian telah menunjukkan pertanda kecil tapi cukup signifikan bahwa perbedaan 1 persen antara jumlah materi dan antimateri yang dihasilkan, yang dapat menjadi petunjuk bagaimana keberadaan kita (manusia) yang mendominasi bisa muncul. Teori saat ini, yang dikenal sebagai Model Standar dari partikel fisika, telah diprediksi beberapa pelanggaran simetri materi-antimateri, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bisa muncul dengan sebagian besar terdiri dari materi dengan sisa jejak samar antimateri. Tapi eksperimen terbaru memuncul rasio ketidakseimbangan materi terhadap antimateri yang melampaui ketidakseimbangan yang diprediksi oleh Model Standar. Secara khusus, fisikawan menemukan perbedaan 1 persen antara pasang muons dan antimuons yang muncul dari peluruhan partikel yang dikenal sebagai mesons B. Hasil eksperimen ini telah diumumkan pada Selasa, berasal dari analisis data selama delapan tahun dari Tevatron Collider di Departement of Energy’s Fermi National Accelerator laboratory di Batavia, Illinois. “Banyak dari kita merasa merinding ketika kita melihat hasilnya,” kata Stefan Soldner-Rembold, seorang ahli fisika partikel di University of Manchester di Britania Raya. “Kami tahu kami melihat sesuatu di luar apa yang telah kita lihat sebelumnya dan melampaui apa yang bisa menjelaskan teori-teori saat ini.” Tevatron Collider dan sepupunya yang lebih besar, Large Hadron Collider di CERN di Swiss, dapat menghancurkan partikel materi dan antimateri bersama-sama untuk menciptakan energi, serta partikel baru dan antipartikel. Jika tidak, antipartikel hanya timbul karena peristiwa ekstrim seperti reaksi nuklir atau sinar kosmis dari bintang-bintang sekarat. Pengukuran dibuat oleh kolaborasi DZero, sebuah kelompok internasional beranggotakan 500 orang, masih dibatasi oleh jumlah tumbukan yang tercatat sapai sejauh ini. Itu berarti fisikawan akan terus mengumpulkan data dan analisis mereka. Para peneliti datang dengan temuan terakhir mereka dengan melakukan analisis data buta, sehingga mereka tidak melakukan bias terhadap analisis mereka berdasarkan apa yang mereka diamati. Mereka telah mengirimkan hasilnya ke jurnal Physical Review D. WE KNOW NOTHING IS BETTER WE KNOW ALLTHING? Mengapa demikian? Bukankah mengatahui segala hal lebih baik di banding tidak mengetahui hal apa pun? Mungkin kita pernah mendengar pepatah yang berbunyi “manusia tidak pernah puas”, saya menangkap pepatah ini dalam dua pengertian yakni negatif dan positif. Negatif karena terkadang dalam kehidupan ekonomi manusia tidak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya dan terus mencoba melebihi apa yang sudah jadi batas kemampuannya, sehingga sehingga hidupnya bersifat konsumtif bukan produktif. Positif karena manusia tak pernah puas akan ilmu, pengetahuan, informasi, dsb yang dimilikinya sehingga manusia akan terus dan terus belajar dalam hidupnya. Inilah maksud dari “We Know Nothing” sebagai manusia terus belajar dan menggali ilmu adalah hak tiap individu. Dalam menggali ilmu (pendidikan) biasanya kita langsung berfikir tentang sekolah padahal menggali ilmu itu sendiri dibagi menjadi 2 macam, formal dan non formal. Pendidikan formal: merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal: paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program – program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya. Dalam dunia yang terus berkembang, tentu kita dituntut untuk terus belajar dan menggali informasi. Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam menggali informasi baik itu membaca, bergaul, bermain, dsb kita bisa mendapatkan informasi bahkan belajar suatu hal. Kita harus membuka wawasan kita ke lingkungan sekitar, kita harus membuka mata dan telinga akan apa yang ada di sekitar kita karena apa yang kita dapatkan di sekolah maupun perkuliahan tidak akan bermakna jika kita tidak mengaplikasikannya di masyarakat. Di era globalisasi ini setiap individu memang dituntut lebih kreatif, kekreatifitasan ini tentu bisa didapatkan dari masyarakat. Orang yang menutup mata-telinganya akan apa yang ada dan terjadi di masyarakat tidak akan pernah berkembang. Menutup mata-telinga maksudnya adalah tidak mau mencari akan informasi dari lingkungan sekitar, baik itu dalam dunia nyata maupun dunia maya. Belajar tentu harus memiliki motivasi tertentu, mengapa demikian? Ini dikarenakan belajar haruslah berdasarkan niat dari diri individu itu sendiri. Dengan adanya niat yang kuat akan muncul suatu motivasi yang membuat belajar menjadi semakin mengasyikan. Belajar yang monoton akan menimbulkan suatu kejenuhan. Inilah yang sedang marak terjadi di pendidikan Indonesia. Begitu banyak tuntutan kepada murid baik itu tugas maupun materi pada kurikulum yang padat dan berubah-ubah. Saat saya di SMA, guru saya pun ikut kerepotan akan kurikulum pendidikan yang padat dan kerap kali berubah. Menurut saya situasi seperti inilah yang membuat siswa-siswi stress, terbebani dalam belajar, dsb. Hal tersebut bisa kita lihat dari perilaku siswa-siswi di sekolah seperti: bolos sekolah, nongkrong setelah pulang sekolah (dengan anggapan untuk refreshing), dsb. Mungkin ada benarnya kalau belajar itu tidak boleh enaknya saja, namun kita seharusnya mencontoh negara maju yang memiliki system pendidikan lebih efektif. Kita ambil contoh dari Jepang, berikut adalah salah satu sekolah menengah atas ternama di negeri matahari tersebut** : Kita telah membahas apa maksud dari “WE KNOW NOTHING” , belajar dalah kata kata kuncinya. Lalu bagaimana dengan “WE KNOW ALLTHING” mengapa mengetahui segala hal tidak jauh lebih baik daripada mempelajari berbagai hal? Mengetahui berbagai hal memang didambakan setiap orang, karena ini terkesan menggambarkan orang yang cerdas, pandai, berwawasan luas, dsb. Namun tahukan kalian akan dampak yang negatif dari “WE KNOW ALLTHING” ini? Kadang orang yang sudah mengetahui segala hal akan menjadi sombong dan malas, karena dia merasa dirinya telah mencapai titik puncak dari suatu pengetahuan. Ini juga bisa berdampak ke hubungan sosial, orang di sekitarnya tidak akan memiliki interesting dalam berbicara dengan dirinya. Ini hanya sebagai contoh mengapa “WE KNOW ALLTHING” tidak lebih baik dari “WE KNOW NOTHING” karena menurut saya ini hanyalah perbedaan paham dan cara kita memandang bagaimana kita menghadapi ilmu pengetahuan dan informasi di sekitar kita. Mudah saja, orang yang berfikiran “WE KNOW NOTHING” akan terus berkembang dibandingkan dengan orang yang berfikiran “WE KNOW ALLTHING”. Tom Krause mengatakan bahwa “Jika kau hanya melakukan apa yang kau tahu bisa kau kerjakan, kau tidak akan bisa berbuat lebih.” Tom Krause (1934), motivator, guru, dan pelatih”. Kalimat emas ini jelas menggambarkan jika kita hanya melakukan apa yang kita bisa dan ketahui itu hanyalah akan menjadi sia-sia, karena kita tidak akan mendapatkan hal yang berguna untuk masa depan kita. Mencoba hal baru adalah hal yang dianjurkan dalam quotes ini, karena dengan bereksperimen akan hal yang belom pernah kita lakukan akan memberikan pengetahuan baru yang tentunya akan berguna untuk masa depan kita. Kita tahu pengalaman adalah guru yang paling baik, maka dari itu dengan kita mencoba berbagai hal kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang membuat kita menjadi semakin matang. Masa muda adalah masa yang berapi-api, begitulah yang dikatakan oleh raja dangdut Indonesia bang haji Rhoma Irama. Menurut saya hal ini sangat positif dalam pengertian semangat yang tinggi dalam meraih cita-cita juga berbagai hal tentang hidup. Hal tersebut juga bisa digunakan di berbagai macam hal, sebagai contoh berikut ini adalah tips untuk menjalankan bisnis dari sebuah pengalaman****: Orang yang belajar dari pengalaman hidupnya adalah orang yang tergolong “WE KNOW NOTHING” karena dia selalu belajar akan apa yang pernah dialaminya maupun akan apa yang ada di depannya. Dengan terus belajar dan berdoa tentu bisa meraih sukses. Tanpa perlu meniru orang lain kita pun bisa meraihnya dengan cara kita sendiri. Socrates “Bagi saya, all I know is that I know nothing , karena ketika aku tidak tahu apa keadilan, aku tidak akan tahu apakah itu semacam kebajikan atau tidak, atau apakah orang yang memiliki itu bahagia atau tidak bahagia”. Diogenes Laertius Socrates seperti dikutip dalam Kehidupan Eminent Filsuf • Aku tahu apa-apa kecuali kenyataan ketidaktahuan saya. • Seringkali ketika melihat massa hal untuk dijual, ia akan berkata pada dirinya sendiri, ‘Berapa banyak hal Aku tidak membutuhkan! ” • Memiliki paling sedikit ingin, saya terdekat kepada para dewa. • Hanya ada satu yang baik, pengetahuan, dan satu jahat, kebodohan. Varian: Satu-satunya kebaikan adalah pengetahuan dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan. Plato terkenal akun sidang dan kematian Socrates. • Saya melakukan apa-apa tetapi pergi tentang membujuk kalian semua, tua dan muda sama, tidak mengambil pemikiran bagi orang-orang atau properti Anda, tetapi dan terutama untuk peduli terhadap peningkatan terbesar jiwa. Saya memberitahu Anda bahwa kebajikan tidak diberikan oleh uang, tetapi bahwa dari kebajikan datang uang dan setiap yang baik lainnya manusia, publik maupun pribadi. Hal ini mengajar saya, dan jika ini adalah doktrin yang  Kehidupan yang tidak teruji bukan kehidupan yang berharga. Sebuah kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan yang berharga. Kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan bagi manusia. Hidup tanpa penyelidikan bukan kehidupan yang berharga bagi pria. • Jam keberangkatan telah tiba, dan kami menempuh jalan kami – aku mati dan kamu untuk hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu. o Apakah Kita Tahu Tidak? Saya pikir jawaban simplist adalah kita tahu NOTHING tentang gravitasi. there is only theory on what gravity actually is… hanya ada teori tentang apa sebenarnya gravitasi … all we know are its effects. semua kita tahu dampaknya. for example the mayans knew with amlost perfect accuracy about the suns behavior to such a degree that they could predict the earths presession. misalnya Maya tahu dengan akurasi yang sempurna atau hampir tentang perilaku matahari sedemikian rupa sehingga mereka bisa memprediksi PreSession bumi. Buut they had absolutly no knowledge of anything ABOUT the sun, like nuclear fusion and photons. Absolutly Buut mereka tidak tahu apa-apa TENTANG matahari, seperti fusi nuklir dan foton. That is pretty much where we are at the moment. Itu cukup banyak di mana kita berada pada saat ini. We understand gravity’s behavior with an extraordinary degree of accuracy, however we know absolutly nothing about gravity. Kami memahami perilaku gravitasi dengan tingkat akurasi yang luar biasa, namun kita tahu absolutly apa-apa tentang gravitasi Ini menyesatkan. Jika Anda melihat hati-hati di segala sesuatu yang Anda pikir Anda tahu, Anda akan melihat bahwa semua yang Anda tahu adalah sebenarnya hanya kemampuan Anda untuk menjelaskan sesuatu. Pengetahuan dari serangkaian sifat dan perilaku dari sesuatu adalah apa yang merupakan kemampuan Anda untuk mengatakan bahwa Anda tahu apa itu. Sekarang tidak berarti bahwa Anda tahu SEMUANYA tentang itu, tapi jelas tidak memungkinkan Anda untuk mengatakan Anda tahu NOTHING tentang hal itu. Fisika hanya itu – kemampuan kita untuk menggambarkan perilaku dari suatu sistem. Tidak ada bukti yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa kita tahu sedikit tentang sesuatu ketika kita dapat membuat prediksi kuantitatif dari apa sesuatu yang akan dilakukan. Lihatlah elektronik modern Anda. Saya bahkan akan mengatakan bahwa kita tahu lebih banyak tentang gravitasi dari yang Anda tahu lebih banyak tentang perilaku kerabat terdekat. Dari artikel tersebut saya menyimpulkan bahwa kita semua merupakan sekumpulan manusia yang tidak lebih tahu dari Dzat Yang Maha Tahu. Maka pantaslah we know nothing berada di tubuh kita. Jika we know nothing sudah tertanam di dalam sanubari kita maka diri kita akan merasa hina, karena pada intinya kita adalah makhluk yang tidak tahu apa-apa. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah berapa banyak manusia yang sombong akan kepintarannya, padahal pada intinya ia tidak tahu apa-apa. Bangga akan tahtanya padahal ilmu yang ia punya belum seberapa. Mengapa itu semua bisa terjadi? Karena kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Sumber : http://www.physicsforums.com/showthread.php?t=249229 http://www.wikipedia.org http://www.gogle.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s