Fenomena Social Network


Social Network mungkin terdengar asing di telinga kita. Mungkin kita akan bertanya-tanya apa sih social network itu? Jika diterjemahkan dengan bahasa, social network mempunyai arti Jaringan Sosial. Dari definisi tersebut semakin berkembang hingga jadilah jaringan sosial di dunia maya atau di internet. Jika dihitung jejaring sosial sangat banyak, di antaranya yang terpopuler adalah facebook, friendster, my space, dan masih banyak lagi yang belum saya ketahui.

Sebelum jejaring sosial facebook merebak, terlebih dulu terkenal friendster. Friendster dibuat atau didirikan oleh Jonathan Abrams pada tahun 2002.  Friendster Dibangun oleh Jonathan Abrams pada tahun 2002, Friendster telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Dengan berbagai fasilitas yang ditawarkannya, tak kurang dari 50 juta orang di dunia telah menjadi anggota situs web jaringan sosial itu.

Situs web jaringan pertemanan itu dirintis Abrams di Mountain View, California, AS. Kehadiran Friendster sempat menjadi fenomena mengejutkan. Tanpa gembar-gembor promosi, kehadirannya langsung mendapat sambutan hangat dari para pecinta dunia maya. Dalam sekejap, jutaan telah manjadi anggotanya.

Tak hanya itu, Friendster pun telah meraup dana sekitar 14 juta dolar AS dari modal ventura dan pemain internet kelas berat, seperti mantan CEO Yahoo, Tim Koogle; mantan CEO Paypal, Peter Thiel; serta mantan vice president amazon.com, Ram Shriram.

Hampir dua tahun Friendster merajalela sebagai situs pertemanan terbesar. Namun menurut Nielsen online, pada 2004 situs serupa, MySpace, berhasil menyalip dominasi friendster dari jumlah anggota. Kini Friendster harus bersaing dengan sejumlah situs yang menawarkan fasilitas serupa, seperti Windows Lives Spaces, Yahoo!360 dan Facebook.

Kehebatan Friendster pun sempat dilirik Google, yang menawarnya seharga 30 juta dolar AS. Namu tawaran itu kemudian dibatalkan Google. Pada 2003, Friendster juga mendapat kucuran dana dari Kleiner, Perkins, Caufield & Byers serta Benchmark Capital dan nilainya ditaksir mencapai 53 juta dolar AS.

Bagi Abrams, Friendster adalah wahana bisnis yang menggiurkan. Pasalnya Friendster juga dapat menarik bayaran untuk fasilitas khusus yang ditawarkannya. Sempat terdengar Friendster bakal mengutip biaya untuk layanan khusus sebesar 9,95 dolar AS per bulan, meski kemudian urung. Bayangkan saja jika ada 10% dari 50 juta anggotanya yang menajdi anggota khusus itu, maka Friendster bisa mengantongi ratusan juta dolar AS per bulannya.

Setelah dua tahun memimpin dan membesarkan Freindster, pada April 2004 Abrams mundur dari CEO Friendster Inc. Posisinya digantikan tim Koogle yang juga Presiden dan CEO Yahoo!.

Majalah Time menganugerahi Friendster gelar ”Coolest Inventions of 2003”. Pada tahun yang sama Abrams dinobatkan sebagai “Breakout Star of 2003” oleh Entertaintment Weekly. Setahun kemudian, Advertising Age Magazine mendapuknya sebagai “Entertaintment Marketers of the Year 2004”.

sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com

Setelah friendster, muncullah jejaring sosial baru yang memupunyai nama facebook.  Pemilik Facebook Mark Zuckerberg belumlah berusia 25 tahun, tetapi ia telahmembuktikan bahwa Anda tidak memerlukan bertahun-tahun pengalaman kerja untuk menjadi milyuner termuda dari hasil keringat sendiri dan bukan warisan.

Zuckerberg besar di pinggiran New York yaitu Dobbs Fery dan bersekolah di Phillips Exeter Academy di New Hampshire. Ayahnya adalah seorang dokter gigi, ibunya adalah psikiater, dan ia memiliki tiga saudara perempuan. Ia belajar sendiri memprogram komputer, dan selama masa seniornya di sekolah lanjutan tingkatan atas, ia dan rekannya sesame hacker-programmer Adam D’Angelo tertarik dengan AOL dan Microsoft dengan menciptakan plug-in Winamp yang dapat membangun playlist customized.

Mark Zuckerberg-FacebookTetapi keduanya menampik tawaran kerja demi kuliah pada tahun 2002- Zuckerberg ke Harvard dan D’Angelo ke Caltech. Tetapi perjalanan Mark untuk menerima gelar di ilmu komputer tidak ditentukan nasib untuk diraih. Tidak hanya untuk mempelajari programming, ia menciptakan situs rating foto yang disebut Facemash, menggunakan fotograf-fotograf dari murid Harvard yang lain yaitu sejenis situs foto online milik sekolah (sebuah publikasi mirip buku tahunan yang didesain untuk memperkenalkan sesama murid satu dengan yang lainnya). Tetapi ia menciptakan program sendiri dengan men-hack ke data-data murid dan menggunakan foto-foto tersebut tanpa ijin, dan akhirnya mendapat teguran dari admin karena melanggar peraturan privasi dan keamanan komputer.

Tetapi Mark tidak merasa terhalang. Ia bahkan menyelesaikan platform untuk “Facebook”, mengkombinasikan konsep dari facebook tradisional (buku tahunan online sekolahnya, red) dengan situs-situs jaringan sosial berskala besar seperti Myspace dan Friendster.

Pada Februari 2004, Zuckerberg meluncurkan program tersebut dari kamar asramanya dengan sesama pendiri Dustin Moskovitz, Chris Hughes dan Eduardo Saverin. Dalam waktu beberapa minggu saja, lebih dari setengah sekolah telah membuka akun. Lalu melebar lagi ke lebih banyak universitas dan kampus, dan pada musim semi, Zuckerberg dan tim-nya pindah ke Palo Alto, California, menyewa sebuah kontrakan dan bercengkerama dengan investor-investor seperti salah satu pendiri Paypal Peter Thiel dan salah satu pendiri Napster Sean Parker.

Mark Zuckerberg-FacebookPada Agustus 2005, Mark secara resmi mengganti nama perusahaan menjadi Facebook, dan setelah berhasil meraup $12,7 juta, siap untuk memindahkan perusahaan ke tingkat lebih tinggi.

Situs tersebut pun berkembang dari jaringan kampus lalu termasuk sekolah-sekolah menengah atas, dan grup-grup lingkungan kerja, dan pada September 2006, setiap orang yang memiliki alamat email bisa bergabung. Sekarang, ada lebih dari 110 juta pengguna aktif, dan menurut comScore Media Metrix, yang mencatat aktifitas Web, Facebook tercatat sebagai top situs sharing foto di jaringan internet, dan adalah situs peringkat empat yang Apaling banyak dikunjungi di dunia, terhitung dengan lebih dari 1 persen dari semua penggunaan internet.

Tak disangka, para raksasa teknologi memperhatikan juga. Pada 2006, Mark membuat dunia terheran dengan menolak tawaran Yahoo untuk membeli Facebook seharga 1 juta dolar. Setahun kemudian, Microsoft menginvestasikan ke 1,6 persen saham perusahaan seharga $240 juta dolar.

Adalah sangat menarik di era informasi seperti sekarang ini banyak orang muda yang memiliki kesempatan untuk meraih kesuksesan dengan cara berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Salah satu contoh adalah Mark Zuckerberg ini.

Untuk mencapai Facebook seperti sekarang ini pun sebagai seorang pengusaha muda Mark bertemu dengan masalah, seperti ketika Mark pernah menghadapi tuntutan dari pihak luar. Tetapi kejelian dari pemuda ini mengantarkan Facebook tetap berkembang di tangannya.

Mark Zuckerberg-FacebookTak ada yang tahu kecuali Mark yang mungkin mengetahui akan kemana perusahaan berjalan, meskipun ia telah mengatakan bahwa Facebook adalah “bekerja sejalan dengan proses.” Baru-baru ini, beberapa eksekutif terkemuka Google telah membuat perpindahan karir ke Facebook, yang mengimplikasikan Facebook menjadi perusahaan korporat yang lebih serius – dan secepatnya, mungkin saja menjadi perusahaan terbuka. Tetapi satu yang pasti: Mark akan menjadi pemain besar dalam industri teknik beberapa tahun yang akan datang.

Sumber : http://renungan-harian-kita.blogspot.com

Menurut data statistik yang dilansir CheckFacebook.com, jumlah pengguna Facebook di Indonesia telah masuk 10 besar jumlah pengguna Facebook terbesar di dunia. Indonesia bertengger di peringkat tujuh, mengatasi Australia, Spanyol, dan Kolombia di peringkat 10.

Menurut data tersebut, yang dikutip VIVAnews, diketahui Indonesia merupakan negara dengan jumlah Facebook terbesar kedua setelah Turki di Benua Asia, yakni sebesar 5.949.740 pengguna. Sementara Turki, yang menduduki peringkat keempat di dunia, memiliki 10.926.180 pengguna per Selasa, 16 Juni 2009 pukul 17.00 WIB.

Perlu diketahui, saat ini pengguna Facebook di dunia telah mencapai 219.286.560 pengguna. Amerika Serikat masih memimpin di posisi teratas dengan 66,7 juta penggemar, jauh meninggalkan Inggris di posisi kedua dengan 17,6 juta pengguna.

Sementara di posisi ketiga menyusul Kanada dengan 11,2 juta. Peringkat lima dihinggapi Perancis dengan 10,1 juta pengguna dan disusul 9,7 juta oleh Italia, yang berada persis di atas peringkat Indonesia.

Dalam hal persentase populasi online, Indonesia mencapai angka 23,8 persen. Artinya, kurang lebih 23,8 persen dari total populasi penduduk di Indonesia telah terdaftar di Facebook. Angka tersebut masih jauh dibandingkan Bangladesh yang memiliki 79,4 persen, terbaik di dunia.

Adapun Vietnam, saat ini masih menjadi negara dengan pertumbuhan pengguna Facebook teratas di dunia dengan 22,34 persen pertumbuhan. Polandia dan China menyusul dengan masing-masing mencatat pertumbuhan 11,3 persen dan 10,8 persen

Sumber = http://teknologi.vivanews.com

Lalu setelah facebook naik daun, muncul lagi jejaring sosial “twitter”. Di Internet, selama tujuh tahun belakangan ini, ada tiga hal yang menonjol: Blogger,Facebook dan Twitter. Dua di antara tiga hal itu, blogger dan twitter, memiliki sosok yang sama di belakangnya.

Dia adalah Evan Williams, seorang pria dari keluarga petani di Amerika Serikat yang bertang gung jawab atas banyak kega duh an di Internet dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun sosok Evan sendiri saja tak cukup, ada juga dua nama lain, Biz Stone dan Jack Dorsey.

Sebelum melihat yang lain, mari perhatikan dulu Evan Williams. Pria kelahir an 1972 ini berasal dari sebuah keluarga petani di Nebraska. Ia memulai kariernya dengan “kabur” ke California, meninggalkan kuliahnya yang belum rampung di University of Nebraska.

Bukan sebuah kebetulan jika Evan  kemudian terdampar di penerbit O’Reilly. Ini adalah penerbit yang terkenal dengan buku-buku teknis dan teknologinya. Penerbit yang telah menelurkan istilah Web 2.0.

Meski memulai dari posisi non-teknis, Evan ternyata lebih getol menulis kode-kode program. Kemudian ia pun mendapatkan berbagai pekerjaan sampingan.

Blogger, Google, dan Biz Stone
Tak puas hanya bekerja sebagai orang bayaran, Evan kemudian memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri. Ia melakukan ini bersama seorang rekan bernama Meg Hourihan.

Perusahaan yang didirikan Evan bernama Pyra. Perusahaan software ini awalnya hendak membuat sebuah software manajemen proyek.

Dalam perjalanannya, Pyra kemudian berubah arah. Salah satu bagian dari piranti manajemen poyek itu diubah menjadi sebuah alat penerbitan online yang mudah. Lahirlah salah satu tools blogging awal yang bernama Blogger.
Evan ternyata mempunyai peranan yang cukup unik dalam memopulerkan kata Blogger. Ia memang bukan pembuat kata itu, namun ia diakui memopulerkan penyerapan kata blog sebagai kata kerja dan juga istilah blogger.

Istilah blog sendiri berawal dari kata weblog (Jorn Barger, 1997) kemudian menjadi blog (Peter Merholz) dan kemudian oleh Evan dijadikan kata kerja.

“Evan Williams menemukan nama blogger untuk produk kami. Saat kami mulai menuliskan naskah di dalam web site itu, setiap kata weblog kami gunakan istilah blog. Tak ada layanan lain ketika itu yang menggunakan istilah blog sedemikian. Ketika kami membuat layanan hosting, kami menamainya “Blogspot” karena itu merupakan sebuah tempat (spot) untuk blog seseorang,” tulis Meg Hourihan.

Blogger kemudian menjadi piranti yang cukup populer pada masa-masa awalnya, namun kisahnya belumlah berupa akhir yang bahagia. Bahkan perusahaan di belakangnya, Pyra Labs, sempat tak mampu membayar pegawainya.

Di tengah kondisi sulit itulah Evan bertahan meski telah ditinggalkan oleh Meg Hourihan dan banyak karyawannya. Ia seakan-akan tidak mau melepaskan “bayi”-nya, atau punya firasat bahwa Blogger bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Benar saja, Pyra Labs kemudian hari dibeli oleh raksasa Internet Google. Layan an itu kemudian menjadi bagian dari sebuah raksasa Internet yang mendunia.

Namun, menurut Evan, penjualan itu terjadi bukan karena Pyra kekurangan uang. “Saat itu kami sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk menerima modal karena kami sedang berjalan baik. Kami tidak butuh untuk menjual perusahaan itu, tetapi melihat penawaran Google dalam hal distribusi dan infrastruktur dan otak—dan mereka sejalan dengan kami secara filosofi perusahaan—tampaknya, kami memang berjodoh,” ujar Evan suatu kali di 2003.
Bersama Google, Blogger terus dikembangkan bahkan meraih popularitas yang luar biasa dengan angka tiga juta blog aktif pada tahun 2003, kurang lebih satu tahun sejak Pyra diakuisisi oleh Google.

Di Blogger ini pula Evan bertemu dengan sosok bernama Biz Stone. Pria dengan nama asli Isaac Stone ini kemudian hari akan berperan penting dalam pendirian proyek Evan selanjutnya.

Hari-hari bersama Biz

Selama di Google, Evan tak juga berhenti berinovasi. Ia kerap memikirkan apa yang akan dibutuhkan oleh pengguna Internet di masa depan. Misalnya, dalam sebuah wawancara Evan melihat potensi blog mengandung hal-hal lain di luar teks. “Foto adalah hal yang besar. Menggunakan kamera digital akan menjadi bagian inti dari cara orang menerbitkan diri mereka,” sebutnya.
Unsur lain yang agaknya menjadi pikiran Evan adalah konten audio. Podcast, semacam blog namun dalam bentuk rekaman suara, menjadi perhatian Evan pada tahun 2004. Bersama Biz Stone, Evan kemudian keluar dari Google dan mendirikan Odeo.

Bersama Biz juga ia kemudian mendirikan perusahaan bernama Obvious Corp. Lewat perusahaan ini, Evan dan Biz membeli kembali seluruh aset Odeo dari para pemodal lain. Hingga kemudian mereka menjual Odeo ke perusahaan Sonic Mountain. Kiprah keduanya di Odeo dan Obvious sebenarnya tidak hanya berdua saja. Ada satu lagi sosok yang cukup berperan penting dalam kisah ini. Ia adalah Jack Dorsey.

Jack Dorsey dan Twitter

Jack Dorsey adalah seorang jenius. Sejak umur 14 tahun ia sudah gemar mengutak-atik software. Salah satu kegemaran Jack adalah teknologi dispatch, yaitu yang digunakan armada taksi, kepolisian, ataupun pemadam kebakaran. Ia pun sempat mendirikan perusahaan yang bisa memanggil kurir, taksi dan layanan darurat melalui website. Cikal-bakal dari Twitter terjadi ketika idenya soal dispatch itu digabungkan dengan pesan instan dan blog.

Ide awal Dari catatan sederhana yang dibuat oleh Jack Dorsey inilah awal konsep Twitter tercetuskan.

“Pada 31 May, 2000, saya bergabung dengan sebuah layanan baru bernama LiveJournal. Suatu malam di bulan Juli saya memiliki ide untuk membuat LiveJournal yang lebih “live”, real time, dan selalu diperbarui dari perjalanan. Sama seperti meng-update status layanan pesan instan dari mana pun kau berada dan menyebarkannya ke semua orang yang kau kenal,” ujar Jack.

Bersama dengan Biz Stone, Dorsey memutuskan bahwa pesan singkat via SMS adalah hal yang paling pas untuk idenya membuat layanan status real-time. Prototipe Twitter pun dibuatnya hanya dalam waktu dua minggu.

Ketika itu, tutur Jack, mereka menyebutnya dengan ejaan twttr dan bukan twitter seperti yang dikenal saat ini. Bahkan sebelum itu, Jack menggunakan istilah stat.us untuk menyebut layanan itu.Bagi Jack Dorsey, butuh waktu 6 tahun sejak ide awal Twitter tercetus di kepalanya hingga akhirnya layanan itu menjadi kenyataan. “Dari diskusi penuh gairah dan bujukan di taman bermain South Park ke aplikasi yang telah disetujui untuk nomor pendek SMS. Saya senang ide ini telah berakar dan saya berharap bisa berlanjut. Hal-hal tertentu memang layak ditunggu,” ujar Jack sekitar tahun 2006.
Masa depan Twitter

Pada tahun 2008,.Twitter menemukan anginnya. Layanan yang  relatif baru itu melonjak kepopulerannya dalam rangkaian Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

“Kami memang memperkirakan akan terjadi lonjakan besar dan memang kejadiannya begitu – aktivitas melonjak hingga 500 persen. Kedua kandidat, Obama dan McCain menggunakan Twitter, dan kami memiliki halaman khusus tweet terkait Pemilu,” sebut Biz Stone dalam sebuah wawancara dengan Boston Globe.

Konon, pemilihan presiden AS 2008 itu merupakan pemilu pertama yang membuat perhatian masyarakat terbelah pada dua layar: televisi dan Internet.  “Saya merasa seakan-akan kami ikut membantu mengubah demokrasi seketika itu juga,” ujar Stone.

Kisah-kisah heroik di dunia Twitter bagaikan trofi bagi Evan, Biz, dan Jack. Kisah-kisah ini mungkin lebih berharga daripada penghargaan yang lain yang pernah diraih Twitter –termasuk penghargaan dari Time Magazine. Contoh kisah itu adalah wartawan yang dipenjara di Mesir karena terlibat demonstrasi masih sempat menuliskan tweet singkat, ‘arrested. Maupun kisah lainnya adalah tweet pertama dari luar angkasa dan banyak lagi.

Bahkan para pendirinya setuju bahwa mengirimkan tweet tak perlu banyak-banyak dalam satu hari. “Saya kira, jika seseorang mengirimkan 20 – 30 kali tweet sehari, itu sudah terlalu banyak. Mereka akan membuat orang lain tersingkir dan orang akan berhenti mem-follow,” sebut Stone.

Jika prestasinya di masa kini sudah cukup banyak, akan seperti apa masa depan Twitter? “Twitter akan selalu berkutat pada menyediakan jaringan komunikasi melalui cara yang paling mudah dijangkau. Seorang petani di suatu dusun di India tak akan mengakses website dalam waktu dekat, tetapi dia bisa mengirimkan pesan singkat ke jaringannya dan menanyakan harga gandum serta mendapatkan jawaban dari banyak orang dan mungkin tak lagi terjebak tengkulak,” ujar Biz Stone.

Data Diri
Nama: Jack Dorsey
Lahir: 19 November 1976, Missouri, AS
Reputasi: ‘penemu’ ide Twitter, CEO Pertama Twitter

Nama: Evan Williams
Lahir: 31 Maret 1972, Nebraska, AS
Reputasi: CEO Twitter, pendiri Blogger.com, mempopulerkan istilah blogger

Nama: Isaac ‘Biz’ Stone
Lahir: 10 Maret 1974, Boston, AS
Reputasi: berperan besar dalam pengembangan awal Blogger dan Twitter

Sumber = http://chip.co.id/articles/

Jadi, kesimpulan saya adalah setiap pendiri jejaring sosial tentu mempunyai maksud dan tujuan yang yaitu meningkatkan silaturrahmi, loh koq gitu? Saya ambil contoh suatu ketika kakak laki-laki Andi (misalnya) kuliah di luar negeri, suatu ketika si Andi kangen sama kakaknya, pengen nelpon kena pulsanya mahal, pengen ngirim surat takut ga sampe-sampe, alhasil jadilah jejaring sosial menjadi penghubung antara Andi dengan kakaknya. Selain itu jejaring sosial juga memiliki berbagai manfaat, diantaranya: bagi seorang pelajar (termasuk saya) sangat membantu sekali, selain untuk menambahkan teman, jejaring sosial juga bisa menjadi tempat diskusi antar teman, seakan-akan kita kumpul dalam suatu ruangan, sehingga tugas-tugas yang diberikan menjadi ringan.

Bagi pebisinis, jejaring sosial solusi yang tepat dalam berbisnis, contoh: jika seseorang mempunyai jejaring sosial, maka dia akan mudah untauk mempromosikan barang atau jasa yang ditawarkan. Karena menurut saya, jejaring sosial sering diakses setelah mesin pencari seperti, gogle, yahoo atau  ebay

Berikut ini nilai positif yang terdapat dalam facebook, menurut para pengguna,

“Nilai positif dari Facebook cukup banyak. Selain mempererat tali silaturahmi, kita juga bisa mendapatkan informasi terbaru dari status orang lain,” kata Arif Rahman, 27 tahun, yang bekerja sebagai konsultan TI di perusahaan pengembang software di Kuala Lumpur.  “Bila ingin tahu informasi terbaru tentang orang-orang terdekat, saya tinggal mengakses Facebook,” ucapnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Nyimas Dian Fitriani, 23 tahun, seorang pekerja paruh waktu yang baru saja menyelesaikan studi bisnis dan manajemen internasionalnya di Saxion HS Ijselland. “Arus informasi di dalam Facebook lebih cepat dan lebih up-to-date. Informasinya cukup luas, misalnya info perkawinan kerabat dekat, info ulang tahun, sampai ke info undangan reuni teman-teman lama,” ucapnya pada VIVAnews.

Berbicara reuni, Ken Wimba, 24 tahun, sependapat dengan Nyimas. Dia mengatakan, selama ini Facebook mampu memfasilitasi pertukaran informasi antara dia dan orang-orang terdekatnya, seperti misalnya undangan pertemuan kembali teman-teman lama atau reuni.

“Facebook membantu sekali sebagai media komunikasi saya dan teman-teman SD hingga SMA. Sehingga, kami tetap bisa menjaga hubungan satu sama lain, termasuk untuk mengundang acara reuni atau sekadar menyebarkan informasi baru,” ucap pria yang bekerja di salah satu event organizer di Jakarta.

Dibandingkan nilai positifnya, ketiga narasumber ini menyanyikan satu suara, efek negatifnya sangat kecil. “Bagi saya pribadi, Facebook hampir tidak ada efek negatifnya. Paling hanya mengganggu privasi, tetapi Facebook juga menyediakan fitur pengaturan bila privasi seseorang ingin dibatasi,” kata Nyimas. “Kalau membuat saya jadi ketagihan sampai mengganggu waktu belajar atau kerja, itu karena saya sendiri. Facebook tak bisa disalahkan,” ucapnya.

Namun, disetiap nilai positif, pasti ada nilai negatif. Memang situs jejaring sosial kini tengah naik daun dalam dunia mayat. Tidak hanya para remaja, tapi juga anak-anak kecil hingga orang tua pun juga ikut berkecimpung. Biasanya facebook ataupun twitter digunakan sebagai ajang untuk komunikasi. Seorang bisa menjalin komunikasi dengan sesama ataupun sebagai pencari teman.

Namun dari dampak positif diatas ternyata situs jejaring sosial ini memiliki banyak sisi negatifnya. Seperti kita ketahui, media televisi belakangan ini memberitakan kejadian penculikan atau orang hilang akibat situs jejaring facebook. Dan juga perdagangan wanita melalui situs jejaring sosial ini.

Situs ini memang begitu melekat dalam perkembangan teknologi. Bahkan beberapa alat telekomunikasi mengandalkan situs ini sebagai aplikasi bawaan handphone.
Memang perkembangan teknologi tidak akan pernah ada habisnya. Namun kita harus tetap berhati-hati dan waspada dalam menghadapi perubahan teknologi ini. Jangan sampai kita terjerumus karena teknologi yang dapat merusak moral kita. Membuat kita candu atau ketagihan, sehingga secara tidak sadar menimbulkan efek-efek yang tidak baik untuk kita. Oleh karena itu, manfaatkanlah jejaring sosial sebaik mungkin, sehingga kita tidak terjerumus dalam dampak-dampak negatif dari jejaring sosial tersebut

Mizan Alfian

18110154

1KA21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s