Menelusuri Titik 0 Jakarta


Pernahkah anda melewati jalan raya atau jalan tol lalu di pinggir jalan ada tulisan km 40 atau km 80? Saya berpikir, lalu dimanakah titik 0 km nya? Di monaskah atau dimana? Mencari titik nol Jakarta ternyata sedikit membingungkan. Terutama bagi yang awam mengenai sejarah kota ini. Bingung bukan mencari lokasinya, tetapi karena titik nolnya ada dua. Yang satu di Tugu Monas dan yang satu lagi di Menara Syahbandar, di daerah pelabuhan Sunda Kelapa dekat museum Bahari.

Bagaimana bisa ada dua? Asep Kambali, Sejarawan dan pemerhati kota Jakarta yang aktif di Historia, sebuah komunitas pecinta kota tua menuturkan, kedua titik nol tersebut berada di jaman dan konteks yang berbeda. Titik nol yang ditetapkan Tugu Monas tahun 80’an adalah titik nol Jakarta yang sekarang. Sementara titik nol di menara Syahbandar, adalah titik nol ketika Jakarta jaman VOC.

Secara konteks pun keduanya berbeda, jaman dulu mungkin orang menandai titik nol sebagai titik dimana pembangunan sebuah kota dimulai. Jika demikian, titik nol di menara Syahbandar memang tepat, karena dari sanalah titik dimulainya pembangunan kota Batavia hingga seperti sekarang. Menurut Asep Kambali atau yang biasa dipanggil Udjo, titik nol itu seperti titik di tengah sebuah lingkaran. “Jadi kemanapun bila ditarik garis ke tepi lingkaran, jauhnya dan koordinatnya sama. Itulah titik nol.” ujarnya. Berdasar konteks itu, maka Monas merupakan titik nol Jakarta. Udjo sendiri tak tahu persis tahun berapa Monas ditetapkan sebagai titik nol Jakarta. Yang jelas, Monas memang dijadikan patokan ketika mengukur koordinat wilayah Jakarta sampai sekarang. Tapi Udjo juga mengingatkan, “Titik nol yang di menara Syahbandar itu dulunya memang berada di tengah-tengah kota Sunda Kelapa yang wilayahnya ketika itu masih terbatas.” jelasnya.

Lalu bagaimana kondisi titik nol Jakarta jaman baheula itu sekarang? Berlokasi di Menara Syahbandar, Jl. Pasar Ikan No.1, Jakarta Utara, tepat bersebelahan dengan museum Bahari, monumen titik nol Jakarta ini untungnya masih terawat rapi. Penandanya adalah sebuah prasasti dari batu bertuliskan aksara China yang konon ditulis seorang pedagang China saat tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa. Prasasti itu bertertuliskan “Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Jakarta”. Di sebelahnya juga terdapat prasasti yang bertuliskan kedatangan saudagar China pada abad ke 17. Bangunan yang menaungi prasasti tersebut memang dipercaya dulunya adalah kantor pengukuran dan penimbangan VOC. Mungkin fungsinya untuk menimbang muatan kapal laut yang bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa. Tak banyak memang cerita yang bisa digali dari monumen titik nol Jakarta tempo dulu karena sumber dan literaturnya terbatas.

Nah persis di sebelahnya terdapat menara Syahbandar yang dibangun Belanda tahun 1834 untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan Sunda Kelapa. Tingginya sekitar 18 meter dan terdiri 3 lantai. Temboknya bercat putih dengan pintu dan jendela yang gedenya minta ampun. Bentuknya kokoh dan rangka kayu jati mendominasi bagian atasnya. Dulu, menurut Pak Maskun, penjaga menara Syahbandar, dari puncak menara pemandangan ke laut cukup jelas dan leluasa. Sekarang sudah tidak lagi karena terhalang rumah-rumah penduduk dan pintu air. Sementara menurut Ida Zubaeda, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Bahari, saat ini menara Syahbandar sudah terjadi kemiringan.

sumber

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s